"Jam Hiji Dua Puluh Salapan Menit"

Produksi ke-25 Tahun 2016

"K A L A N G S U"

Produksi ke-24 Tahun 2016.

"O R A N G A S I N G"

Resital STIA 2016

GELAR KREATIVITAS SENI MAHASISWA 2017

26 th Teater Lima Wajah.

Pementasan Drama Cucunguk

PRODUKSI Ke-23 Teater Lima Wajah.

Footer

Tampilkan postingan dengan label Program Kerja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Program Kerja. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Januari 2019

PRODUKSI RESITAL STUDI TEATER LIMA WAJAH 2018

Sinopsis :

"Seorang istri yang sudah membanting tulang melakukan berbagai macam pekerjaan untuk menyambung hidupnya dan sang suami. Namun sang suami tetap saja bermalas-malasan membuat sang istri lelah dengan kelakuan suaminya. 
Suatu hari dua orang datang kerumahnya mencari dukun sakti. Sang istri memanfaatkan situasinya dan menyebut bahwa suaminya adalah dukun sakti yang sedang dicari oleh dua orang tersebut. 
Suami yang dianggap dukun sakti itu mau tidak mau segera dibawa kerumah majikannya dan diminta untuk menyembuhkan anak dari majikannya itu."

Naskah :
"Dukun - Dukunan"
Karya Moliere – adaptasi oleh Puthut Buchori

Sutradara Maulana Yusup

Dalam rangka meningkatkan kegiatan ekstrakulikuler kemahasiswaan melalui proses pembinaan minat, bakat dan kemampuan para mahasiswa, khususnya di bidang seni.
Teater Lima Wajah Universitas Kebangsaan Republik Indonesia kembali menyelenggarakan produksi resital Studi Teater Lima Wajah (STIA) untuk angkatan 2018. 
pelaksanaan : 
  • Kamis, 31 Januari 2019 pukul; 13.00 dan 16.00 WIB, Gedung Aula Prof. Soemitro Djojohadikusumo Universitas Kebangsaan Republik Indonesia.
  • Minggu, 1 Februari 2019 pukul; 10.00 dan 13.00 WIB, Gedung Kesenian Rumentang Siang Bandung.
Infomarsi hubungi :
  • Sabda Yuda (0896.5641.6911)
  • Syifa R.N. (0815.7094.493)
  • Asril (0838.2294.5826)
Fb : teaterlimawajah
ig : teaterlimawajah

Sabtu, 13 Oktober 2018

Berlatih Percaya Diri ala Monolog Teater Lima Wajah

Berlatih Percaya Diri ala Monolog Teater Lima Wajah


LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--
Seorang pria berkaus putih kusam duduk dengan raut muka kesal di balik jeruji. Duduknya gelisah, sesekali merintih. Ia berdiri dan kemudian meluapkan emosinya sambil berteriak.
"Eweuh ampun pikeun anu ngalawan pamarentah. Hukum na beurat. Kuring dituding subversif. Kuring dituduh anggota teroris anu ngalawan pamarentah. Kukituna kuring kudu dihukum beurat," ungkap pria tersebut.
Dirinya bermonolog meluapkan keluhan mengenai kondisinya. Dia yang merupakan santri di sebuah pesantren harus mendekam di penjara karena tudingan yang baginya tidak berdasar. 
"Kuring mah ngan saukur cicingeun, kuuleun, jeung carang takol, anu hayang ngabela bebeneran. Tapi naha kuring diberok?" keluhnya.

Monolog di atas merupakan cuplikan penampilan mahasiswa Universitas Kebangsaan, Maulana Yusup, yang memeragakan naskah berbahasa Sunda,  "Diberok" karya Deni A. Fajar.
Yusuf kala itu tampil dalam rangka gelaran Keproduksian-28 yang diinisiasi oleh Teater Lima Wajah Universitas Kebangsaan.

Selain Yusuf, dua orang mahasiswi juga tampil bermonolog dengan naskah lain berbahasa Indonesia, yakni Kerinduan Terhadap Cinta karya Achmad Dayari, dan Kenang-kenangan Wanita Pemalu karya WS. Rendra.
"Ini merupakan persiapan dari pasanggiri (perlombaan) di empat tempat," jelas sang sutradara sekaligus pembina teater, Agus Sudrajat ketika ditemui di kampus Universitas Kebangsaan, jalan Terusan Halimun, belum lama ini.

Teater yang telah berdiri sejak 1991 tersebut sempat vakum cukup lama dan kembali aktif pada 2015 lalu.
"Saya mencoba untuk menghidupkan kembali juga mengkaderisasi mahasiswa dengan dua program, yaitu produksi dan resital,"jelasnya.
Dia yang juga merupakan pegiat di Teater Sunda Kiwari berniat mewadahi para peminat teater di kampus tersebut maupun khalayak umum.
"Teater ini menampung minat-minat mahasiswa maupun yang di luar kampus. Kita tidak mengeksklusifkan diri hanya untuk mahasiswa Universitas Kebangsaan," tuturnya.
Meski demikian, dia mengaku tujuan utamanya menghidupkan kembali teater tersebut bukanlah semata untuk mencetak teaterawan.
"Penguasaan peran adalah bonus. Saya ingin memberi pendidikan ilmu terapannya dengan melatih mereka rajin membaca naskah dan menghapal," ungkapnya.
Sepengalamannya, anak-anak dan mahasiswa saat ini kurang memiliki kepercayaan diri. Dengan berlatih teater, ia berharap hal tersebut dapat membantu orang untuk mampu keluar dari zona nyaman.
"Di teater kan seseorang harus berani tampi jadi apa saja, jadi orang gila sekalipun," jelasnya seraya tertawa.

UKM Berprestasi
Agus menuturkan, meskipun hanya berbentuk Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), teater binaannya tergolong berprestasi.
"Meskipun belum juara, April lalu kami berhasil masuk nominasi aktris terbaik di Festival Drama Bahasa Sunda tingkat umum. Itu adalah festival bahasa daerah tertua di Jawa Barat, bahkan mungkin satu-satunya di Indonesia," ungkapnya.
Setelahnya, salah satu anggota teater tersebut dikontak oleh salah satu agensi ibu kota untuk bermain peran di televisi.
Selain itu, banyak di antara anggota yang mendapat beasiswa dari pihak kampus.
"Mayoritas  dapat beasiswa karena keaktifannya di kampus, dan bisa mengharumkan nama kampus juga," jelasnya.

Sabtu, 13 Oktober 2018,   

AYOBANDUNG.COM -- Nur Khansa Ranawati

Jumat, 08 Desember 2017

PRODUKSI RESITAL STUDY TEATER LIMA WAJAH 2017



PRODUKSI RESITAL STUDY TEATER LIMA WAJAH 2017



Interaksi sosial yang diliputi berprasangka buruk atau kecurigaan kepada pihak lain hanya akan menimbulkan keresahan dan ketidak-harmonisan dalam kehidupan sosial dimasyarakat.

Perlu adanya suatu upaya dan tindakan dalam menciptakan suasan yang harmonis,kerukunan dan rasa kebersamaan dalam kehidupan sosial bermasyarakat.

Teater Lima Wajah Universitas Kebangsaan melalui kegiatan Resital Study Teater Lima Wajah (STIA) tahun 2017, kembali menampilkan sebuah sarana hiburan dan edukasi (Edutaiment) dalam pementasan drama “SEMAH” saduran bebas Rosyid E. Abby adaptasi naskah “Lithuania” karya Rupert Brooke dan pementasan drama “Dilarang Menyanyi dikamar Mandi” karya Gumel Riyadh, kedua naskah tersebut disutradarai oleh Agus Sudrajat.

Pelaksanaan pada ;

Hari / Tanggal      : Selasa dan Kamis / 12 dan 14 Desember 2017
Waktu                   : 13.30 dan 15.30 WIB
Tempat                 : Kampus Universitas Kebangsaan Bandung
                               Jl. Terusan Halimun no. 37 Lingkar Selatan Bandung

Harga tiket satu kali pementasan : Rp. 10.000,-

Pemesanan tiket melalui 

  • Nida Nudia Silmi (+62 822-1920-3664)
  • Lina Sherlina (+62 856-5965-6620)
  • Maulana Yusup (+62 838-2294-5826)